Kamis, 21 Oktober 2010

BENCHMARKING

A Hidden Opportunity

Benchmarking adalah sebuah proses mengukur kerja internal organisasi, membandingkan dengan performa terbaik di kelas yang sama dan menganalisa bagaimana meraka mencapai standar tersebut. Informasi tersebut digunakan untuk menyusun target, strategi dan implementasi perusahaan.

Mengapa Kita Perlu Melakukan Benchmarking?

Hal terpenting di proses benchmarking adalah anda bisa menentukan dimana posisi anda sekarang dibandingkan dengan rata-rata perusahaan lain di dalam industry. Apakah posisi saat ini barada di atas rata-rata atau malah sudah ditingggalkan oleh perusahaan lain yang sejenis.

Dengan mengetahui posisi relative terhadap perusahaan sejenis, maka dapat ditentukan strategi apa yang harus diambil sehubungan dengan posisi tersebut. Anda mungkin saja tertinggal oleh perusahaan yang lain dalam hal raw material cost tetapi mungkin juara dalam hal efisiensi tenaga kerja atau produktifitas. Benchmarking akan membantu dalam menentukan bidang mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus dipertahankan sebagai competitive advantage, karena untuk bidang itu mungkin perusahaan anda jauranya. Benchmarking juga membantu anda untuk mengetahui dimana posisi pesaing utama sehingga secara objektif bisa saling menimbang-nimbang kekuatan masing-masing.

Benchmarking akan membantu anda dalam mengidentifikasi dimana terdapat potential cost saving dan dapat pula membantu dalam menentukan target performance untuk setiap departemen di perusahaan. Benchmarking juga dapat membantu memonitor kinerja perusahaan selama bertahun-tahun serta kecenderungannya. Apakah perusahaan anda semakin kompetitif atau semakin jauh tertinggal dari rata-rata industry.

Dengan melakukan benchmarking anda akan dapat memahami tren industry yang digeluti dan best practice yang terjadi di dalam dan di luar perusahaan anda. Membandingkan kinerja operasional perusahaan dengan rata-rata industri merupakan proses yang sangat objektif dan meyakinkan bagi seluruh jajaran perusahaan. Seluruh staf akan merasa terpacu karena dinilai secara sangat objektif. Analisa terhadap posisi persaingan menjadi sangat mudah, transparan dan objektif serta tidak memakan waktu.

Hasil analisa dari proses benchmarking akan dengan gamblang menentukan kearah mana seluruh resources harus ducurahkan agar tidak tertinggal oleh pemain lain di dalam industry.

Proses Benchmarking

Secara umum proses benchmarking adalah sebagai berikut:

  1. Planning

  • Tentukan parameter atau proses apa yang ingin dibandingkan

  • Tentukan perusahaan pembandingnya

  • Kumpulkan data yang relevan

  1. Analisa

  • Tentukan “gap” kinerja antara perusahaan anda saat ini dan kinerja perusahaan pembanding

  • Proyeksikan tingkat kinerja yang anda inginkan dimasa yang akan datang (tentukan tenggang waktunya)

  1. Integrasi

  • Komunikasikan hasil perbandingan dan disepakati bersama seluruh jajaran organisasi yang relevan

  • Tetapkan tujuan dan target dari tiap fungsi dalam organisasi

  1. Action

  • Buat rencana kerja (action plan)

  • Lakukan dan monitor perkembangannya

  • Lakukan perbandingan kembali

  1. Aplikasi

  • Terapkan business practice yang baru dan telah disempurnakan

  • Gunakan prosedur yang sama untuk proses bisnis yang lain

Menentukan langkah awal apa yang ingin dibandingkan merupakan hal yang sangat penting dan kadang-kadang mengundang perdebatan di dalam organisasi. Cara terbaik menentukannya adalah dengan berpegang teguh pada hal yang paling bermanfaat bagi konsumen bila proses improvement ini berhasil.

Merubah Paradigma / Value Organisasi

Manfaat lain dari proses benchmarking adalah:

  • Menanamkan nilai-nilai dalam perusahaan bahwa perbaikan secara terus-menerus merupakan sebuah keharusan untuk mencapai level excellence

  • Merangsang tumbuhnya kreatifitas organisasi

  • Meningkatkan sensifitas terhadap terjadinya perubahan lingkungan eksternal

  • Merubah mental “cepat puas” menjadi sifat untuk selalu haus akan perbaikan

  • Dapat secara focus mengalokasikan sumberdaya pada peningkatan kerja yang diprioritaskan

Kelemahan Proses Benchmarking

Benchmarking lebih didasarkan pada proses belajar dari orang lain dan bukan pada kreativitas apalagi inovasi. Benchmarking juga tidak dapat menjamin perusahaan anda untuk terus-menerus mendapatkan competitive advantage dari perusahaan sejenis di dalam industry.

Analisa kompetitif merupakan pendekatan yang digunakan oleh banyak organisasi / perusahaan dalam menetapkan target / tujuan dan biasanya dibandingkan denagan perusahaan di laur industry untuk parameter yang umum dimiliki oleh semia jenis industry.

Materi diambil dari FOOD REVIEW INDONESIA vol III No. 12 Desember 2008, 18—19 oleh Suseno Hadi Purnomo


Selasa, 12 Oktober 2010

MANISNYA STEVIA,

Generasi Baru Pemanis

Tanaman yang memiliki nama latin Stevia rebaudiana Bartoni ini, merupakan tumbuhan herba dan semak dari keluarga Asteraceae. Stevia banyak tumbuh di daerah Amerika Selatan (Paraguay dan Brazil), sehingga dikenal juga sebagai “the sweet herbof Paraguay”.

Salah satu komponen pemanis utama dalam stevia adalah stevioside. Tingkat kemanisan yang dimilikinya adalah sekitar 300 kali lebih manis dibandingkan gula (sukrosa). Selain itu, rasa manis stevia memiliki karakteristik muncul lebih lama (slower onset), namun durasinya lebih lama (longer duration). Pada konsentrasi yangg tinggi, beberapa ekstrak stevia dapat menghasilkan after taste pahit atau licorice-like.

Pada tabel di bawah ini ditunjukkan komposisi zat gizi stevia per 100g

Komposisi

Nilai (per 100 g)

Proksimat:


Kadar Air (g)

7

Energi (kal)

270

Protein (g)

10

Lemak (g)

3

Karbohidrat (g)

52

Abu (g)

11

Serat (g)

18

Mineral:


Kalsium (mg)

464,4

Fosfor (mg)

11,4

Besi (mg)

55,3

Sodium (mg)

190

Potasium (mg)

1800

Faktor anti gizi:


Asam Oksalat (mg)

2295

Tanin (mg)

0,01

Stevia, et al. (2004)

Berdasarkan penelitian yang dilakukan Stevia et al. (2004), energi yang dimiliki stevia adalah 2,7 kal/gram , artinya stevia telah memenuhi syarat untuk diklaim sebagai pemanis rendak kalori, sebagaimana halnya acesulfame potasium (calorie free), Aspartame (4 kal/gram), Sakarin (calorie free), dan sukralose (calorie free).

Stevia juga mengandung beberapa zat gizi penting lainnya seperti protein, lemak dan karbihidrat. Selain itu, kandungan mineralnya juga bermanfaat bagi tubuh. Namun, pada stevia juga terdapat komponen zat anti giziseperti asam oksalat dan tanin yang dapat mengurangi bioavailabilitas kalsium, besi dan beberapa zat gizi mikro lainnya.

Selain tingkat kemanisannya, penggunaan ekstrak stevia banyak menarik minat industru karena berkembangnya tren pangan rendah gula/karbohidrat. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa stevia memiliki pengaruh dalam mengurangi resiko obesitas dan tekanan darah tinggi. Hal ini dikarenakan stevia tidak berpengaruh terhadap kadar glukosa darah, sangat potensial untuk dijadikan pemanis alami bagi kalangan konsumen carbohydrate controlled diets. Karakteristik fungsional stevia dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Sifat

Nilai

Bulk Density

0,443 g/ml

Kapasitas Penyerapan Air

4,7 ml/g

Kapasitas Penyerapan Lemak

4,5 ml/g

Nilai Emulsifikasi

5 ml/g

Pengembangan (Swelling)

5,01 g/g

Kelarutan

0,365 g/g

pH

5,95

Stevia, et al. (2004)


Sifat fungsional ini sangat penting, karena berkaitan dengan kesesuaian aplikasi penggunaan dan penanganannya dalam produk pangan. Beberapa sifat fisik stevia yang penting dissebutkan pada tabel diatas.

Berdasarkan data tersebut, terlihat bahwa stevia memiliki bulk density yang rendah, sehingga tidak cocok untuk produk pasta yang pada umumnya memiliki dnsitas lebih tinggi untuk mengurangi thickness. Namun stevia memikili kapasitas penyerapan lemak yang cukup. Karakter ini penting untuk memerangkap minyak, sehingga daapat digunakan untuk mempertahankan flavour dan meningkatkan mouth feel produk.

Kontroversi penggunaan stevia diakibatkan oleh isu kesehatan dan politis, akibatnya stevia tidak dapat berkembang dengan pesat. Pada awal 1990-an, Amerika Serikat melarang penggunaannya, kecuali dilabel sebagai suplemen. Namun, stevia digunakan secara luas di Jepang, dan kini di Kanada tersedia dalam bentuk dietary supplement. Pada akhir Desember, menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Cargill dan Whole Earth Sweetener Co., mengenai pengajuan dua merek dagang mereka berbasis stevia, FDA menyatakan bahwa berrdasarkan bukti ilmiah dan data lain yang dimikinya bahwa tidak ada pertanyaan mengenai status GRAS dari rebaudioside A yang diajukan, sesuai dengan kondisi penggunaannya. Rebauside merupakan hasil ekstraksi dari stevia.

Cargill bekerjasama dengan Coca Cola mengembangkan merek Truvia untuk pemanis tersebut. Sedangkan PureVia dikembangkan oleh PepsiCo dan Merisant. Dengan adanya persetujuan dari FDA tersebut, Coca Cola dan Pepsi siap memproduksi minuman dengan menggunakan stevia.

Artikel diambil dari FOODREVIEW INDONESIA VOL.IV NO.2 FEBRUARI 2009 Halm 40-41, ditulis oleh Hendry Noer F,